Wamena nokenwene.com – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Indonesia Timur, Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) IV Dewan Pimpinan Cabang (DPC) AMPTPI Jayawijaya dengan mengusung tema “Bersatu Selamatkan Papua” dan motto “Satu Tungku dalam Satu Honai”.
Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 30–31 Oktober 2026, bertempat di Aula Silimo-Siloam, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan.

Konfercab hari pertama diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan seminar yang membahas kembali sejarah lahirnya AMPTI serta perjalanan organisasi mahasiswa Pegunungan Tengah Papua. Sedangkan hari kedua, kegiatan dilanjutkan pemilihan kepengurusan baru DPC AMPTI Jayawijaya.
Kegiatan ini melibatkan puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jayawijaya, organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) Cipayung, pelajar, alumni AMPTPI , serta sejumlah organisasi masyarakat sipil.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Jayawijaya Roni Lopere, Ketua Dewan Adat Papua Dominikus Surabut, Ketua DPR Papua Pegunungan Yoas Elopere, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam laporan ketua panitia Frengki Alua pelaksana, disampaikan bahwa panitia telah menerima kepercayaan dari pengurus AMPTPI pada 12 Oktober 2026 untuk mempersiapkan dan menyukseskan Konfercab IV DPC AMPTPI Jayawijaya.
Panitia kemudian memprioritaskan kerja-kerja konsolidasi dengan melibatkan 11 perguruan tinggi dan delapan ikatan mahasiswa yang berada di Kabupaten Jayawijaya.
Panitia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para alumni serta senior AMPTI yang telah memberikan dukungan dan terlibat dalam mempersiapkan pelaksanaan konferensi tersebut.
Sementara itu, Ketua AMPTI Cabang Jayawijaya, Paskalis Wilil, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh perwakilan cabang AMPTI dari berbagai daerah di Indonesia yang telah hadir dan mengambil bagian dalam konferensi tersebut.
Ia mengatakan bahwa AMPTI merupakan organisasi milik mahasiswa Pegunungan Tengah Papua, khususnya mahasiswa dari wilayah Lapago dan Meepago. Karena itu, dirinya berharap seluruh mahasiswa dapat kembali membangun kebersamaan dan menghidupkan organisasi yang sempat mengalami kevakuman.
“Organisasi AMPTI ini sudah berdiri cukup lama. Namun, sejak tahun 2020 terjadi kevakuman di hampir seluruh cabang. Hari ini kita harus bangkit kembali dan menyalakan api Honai AMPTI yang sempat padam,” ujarnya.
Menurut Paskalis, berbagai persoalan yang terjadi di Tanah Papua, khususnya di Provinsi Papua Pegunungan, membutuhkan keterlibatan mahasiswa melalui pemikiran kritis, kajian, dan kerja-kerja organisasi.
Ia juga menjelaskan bahwa kepengurusan AMPTI Cabang Jayawijaya yang dipimpinnya merupakan kepengurusan ketiga. Karena itu, melalui Konfercab IV, pihaknya berharap proses pemilihan kepengurusan baru dapat dilaksanakan secara resmi dan demokratis sesuai mekanisme organisasi.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Adat Papua, Dominikus Surabut, yang juga merupakan mantan Ketua DPC dan DPW AMPTI serta mantan Wakil Sekretaris Jenderal, memaparkan sejarah panjang berdirinya organisasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa cikal bakal AMPTI berawal dari Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) yang lahir pada 1998 di Asrama Mansinam, Manokwari. Organisasi tersebut kemudian berkembang sebagai wadah konsolidasi mahasiswa Pegunungan Tengah Papua.
Menurut Surabut, pembentukan AMPTI dilatarbelakangi oleh kesadaran mahasiswa Pegunungan Tengah yang saat itu merasa masih dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai kelompok masyarakat yang tertinggal dalam lingkungan pendidikan tinggi.
Ia juga mengisahkan perjalanan organisasi sejak kongres pertama di Timika, pelaksanaan rapat kerja nasional di Jakarta, hingga kongres-kongres berikutnya yang melibatkan sejumlah tokoh Papua.
Surabut berharap generasi mahasiswa saat ini dapat memahami sejarah perjuangan organisasi dan tidak membiarkan AMPTI kembali mengalami kevakuman.
“Kurang lebih lima tahun kita tidur sejak Kongres IV di Jayapura. Hari ini saya berharap melalui konferensi di Jayawijaya, AMPTI kembali bangkit dan menjalankan tugas-tugas organisasi untuk kepentingan mahasiswa dan masyarakat Papua,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPR Papua Pegunungan, Yoas Elopere, dalam sambutannya mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir AMPTI mengalami kevakuman sehingga sejumlah program organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ia menyampaikan permohonan maaf atas belum maksimalnya pelaksanaan program organisasi dan berharap Konfercab IV menjadi momentum kebangkitan AMPTI.
Yoas juga menceritakan bahwa keterlibatannya dalam AMPTI telah dimulai sejak masa mahasiswa. Ia mengaku mengikuti perjalanan organisasi hingga konferensi-konferensi sebelumnya dan bersyukur karena pengalaman berorganisasi tersebut menjadi salah satu bagian dari proses perjalanan dirinya hingga saat ini berada di lembaga DPR Papua Pegunungan.
Menurutnya, AMPTI bukanlah organisasi yang dibangun untuk mencari keuntungan pribadi maupun materi, melainkan wadah untuk membentuk karakter, memperkuat intelektualitas, dan melahirkan kader-kader yang mampu memberikan kontribusi bagi Tanah Papua.
“Dalam AMPTI tidak ada uang. Kita tidak boleh bertanya AMPTI memberikan apa kepada kita, tetapi kita harus bertanya apa yang bisa kita berikan kepada AMPTI. Yang penting kita jalan dulu, jangan sampai api organisasi ini mati,” tegasnya.
Ia juga berharap AMPTI dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melakukan kajian terhadap berbagai persoalan di Papua, termasuk persoalan sosial, kemanusiaan, dan lingkungan hidup.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Jayawijaya, Roni Elopere, yang sekaligus membuka secara resmi konferensi, menyampaikan bahwa mahasiswa merupakan salah satu ujung tombak pembangunan daerah. Karena itu, ia mengajak mahasiswa untuk menjaga persatuan dan turut membantu pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.
Menurutnya, kondisi keamanan yang kondusif merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung aktivitas ekonomi dan pembangunan di Kabupaten Jayawijaya maupun Provinsi Papua Pegunungan.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak terlibat dalam konflik antar kelompok maupun perang suku yang selama ini telah menimbulkan korban jiwa dan mengganggu kehidupan masyarakat. “Cukup sudah konflik dan perang yang terjadi sebelumnya. Mari kita melihat ke depan dan bersama-sama menjaga Wamena serta Papua Pegunungan agar tetap aman,” ujarnya.
Roni juga mendorong AMPTI untuk memperkuat peran intelektual mahasiswa melalui diskusi, kajian, dan rekomendasi terhadap berbagai persoalan pembangunan daerah. Menurutnya, pemerintah membutuhkan masukan dan pemikiran kritis dari kalangan mahasiswa untuk membangun Papua Pegunungan.
Selain itu, ia mengajak mahasiswa untuk memberikan perhatian terhadap persoalan penyalahgunaan minuman beralkohol dan HIV/AIDS yang menjadi tantangan serius bagi kehidupan masyarakat.
Ia berharap AMPTI dapat membangun kerja sama dengan pemerintah daerah melalui kegiatan-kegiatan positif dan konstruktif, sekaligus meninggalkan berbagai perbedaan politik yang pernah terjadi.
“Mahasiswa harus bersatu, melakukan kajian, dan memberikan masukan kepada pemerintah. Mari kita sama-sama menjaga Wamena dan membangun Papua Pegunungan,” katanya.
Roni Elopere kemudian membuka secara resmi Konfercab IV DPC AMPTI Jayawijaya dengan membunyikan pana sebagai tanda dimulainya kegiatan konferensi.
Melalui Konfercab IV ini, AMPTI diharapkan dapat kembali mengkonsolidasikan kekuatan mahasiswa Pegunungan Tengah Papua, memperkuat solidaritas antarcabang, serta melahirkan kepemimpinan baru yang mampu menjalankan roda organisasi dan mengambil bagian dalam perjuangan menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan, sosial, pendidikan, dan lingkungan di Tanah Papua (*).
Pewarta: Paskalis Haluk/Jurnalis Warga Noken Wamena*
