Tiom, nokenwene.com – Umat Persekutuan Gereja – gereja Baptis di Tanah Papua (PGBP) memperingati 70 tahun perjalanan pelayanan Injil di Tiom, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (28/10/26).
Peringatan tersebut sebagai momentum untuk memperkuat persatuan gereja, mempersiapkan generasi muda menuju satu abad Baptis Papua pada 2056, serta mendorong rekonsiliasi melalui pertobatan dan pengampunan.
Ketua BPP PGBP, Pdt. Stevanus Yan Wenda, M.Th., mengatakan perjalanan tujuh dekade pelayanan Baptis di Tanah Papua merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Ia menyebut pelayanan misi Australia melalui ABMS sebagai bagian dari sejarah penyebaran Injil di wilayah tersebut.
Dikatakan, peringatan 70 tahun ini dihadiri umat Baptis dari berbagai daerah, para pendeta, tokoh masyarakat, kalangan intelektual, serta sejumlah undangan dari unsur pemerintahan, termasuk Bupati Jayawijaya dan Bupati Lanny Jaya.
“Seluruh umat Baptis di Tanah Papua berkumpul untuk mengucap syukur karena kami bisa mencapai 70 tahun,” kata Wenda dalam wawancara pada peringatan tersebut.
Ia mengatakan, perjalanan menuju satu abad Baptis Papua pada 2056 harus dipersiapkan sejak sekarang. Gereja, menurut dia, tidak hanya bertanggung jawab menjaga keberlangsungan pelayanan, tetapi juga membina generasi muda agar memiliki integritas, berakar dalam firman Tuhan, dan memberikan dampak positif bagi jemaat serta masyarakat.
Persiapkan generasi menuju satu abad
Wenda menjelaskan, persiapan menuju 2056 perlu diwujudkan melalui penguatan berbagai bidang pelayanan, mulai dari penginjilan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan kesehatan, hingga pembinaan kehidupan rohani melalui doa dan puasa.
Ia juga menyoroti pentingnya peran gereja dalam menyuarakan persoalan hak asasi manusia di Papua. Menurutnya, gereja memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan suara kenabian dan mengingatkan semua pihak agar melindungi masyarakat dari berbagai ancaman.
“Harapan kami kedepan, Baptis Papua tetap bersatu, berakar dalam firman dan berdampak bagi masyarakat dan jemaat, serta menyiapkan generasi yang berintegritas menuju 2056,” ujarnya.
Selain itu, Pdt. Stevanus Yan Wenda juga mengajak generasi muda untuk mengambil bagian dalam pembangunan Tanah Papua. Ia berharap perbedaan antara kelompok gereja tidak menjadi penghalang bagi kerja sama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Persatuan merupakan salah satu modal penting untuk memperkuat pelayanan gereja sekaligus mendukung kemajuan Kabupaten Lanny Jaya dan Papua secara luas.
Doa Pemulihan tekankan pertobatan dan pengampunan
Selain memperingati 70 tahun pelayanan Baptis di Tanah Papua, Wenda menjelaskan bahwa kegiatan Doa Pemulihan menjadi bagian dari upaya mengajak umat kembali kepada ajaran Injil, melakukan pertobatan, dan membangun rekonsiliasi.
Ia mengatakan, pemulihan perlu dimulai dari lingkungan keluarga, termasuk hubungan suami dan istri, orang tua dan anak, serta relasi antar saudara. Rekonsiliasi juga diperlukan dalam kehidupan bergereja, terutama ketika terjadi konflik antara gembala dan jemaat maupun perselisihan di antara sesama pelayan.
Wenda menekankan bahwa doa dan puasa perlu disertai keterbukaan hati serta kesediaan untuk saling mengampuni. Menurut dia, pemulihan tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa, tetapi perlu diwujudkan dalam perubahan sikap dan tindakan.
“Bagaimana terjadi pemulihan itu tergantung kita yang memulai. Kita minta ampun kepada Tuhan, saling mengampuni,” kata Wenda.
Ia juga mengajak para pemimpin gereja, pemerintah daerah, dan kalangan intelektual untuk membangun komunikasi serta duduk bersama dalam mencari jalan bagi kemajuan Lanny Jaya.
Wenda berharap seluruh unsur masyarakat dapat mengurangi pertentangan dan mengutamakan kepentingan bersama. Ia menginginkan Lanny Jaya menjadi ruang persatuan bagi umat Baptis sekaligus tempat berbagai pihak membangun komitmen untuk memajukan daerah.
Ajak gereja perkuat persatuan
Dalam wawancara tersebut, Wenda kembali menyampaikan harapan agar umat Baptis di Tanah Papua memperkuat persatuan dan mengatasi perbedaan internal melalui komunikasi serta semangat saling mengampuni.
Ia menilai, perjalanan menuju satu abad Baptis Papua membutuhkan kerja bersama dalam pembinaan generasi penerus, penguatan pelayanan sosial, dan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan.
Bagi Wenda, peringatan 70 tahun tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan pelayanan dan memperkuat komitmen menghadapi tantangan tiga dekade mendatang.
Ia mengajak generasi muda, pemimpin gereja, dan seluruh umat untuk terus mengambil bagian dalam pelayanan serta kemajuan Tanah Papua.(*)
Pewarta: Jurnalis Warga Noken Wamena*
