Minggu, Februari 22, 2026
NokenWene
No Result
View All Result
No Result
View All Result
NokenWene
No Result
View All Result
Home Opini

Gereja Misioner di Tengah Masyarakat Papua

Refleksi Pekan I Prapaskah 2026

in Opini
Taman Doa Matopai Dekai

Taman Doa Matopai Dekai

Share on WAShare on FB

Oleh Florianus Geong

 

RelatedPosts

Iman yang Diuji: Spiritualitas Ekologi di Tengah PSN Merauke

Rebut Kembali Ruang dan Berdikari

Pekan Prapaskah pertama selalu menjadi undangan untuk kembali ke inti panggilan iman: bertobat, memperbarui arah hidup, dan berjalan lebih dekat dengan kehendak Allah. Tahun ini, ajakan itu terasa semakin konkret karena kita merenungkannya dalam terang Sinode yang baru saja diselesaikan oleh Keuskupan Jayapura. Sinode bukan sekadar pertemuan administratif Gereja, melainkan peristiwa rohani di mana umat bersama-sama mendengarkan Roh Kudus untuk membaca tanda-tanda zaman. Dalam semangat itu, tema Gereja Misioner di Tengah Masyarakat Papua menjadi panggilan nyata bagi setiap orang beriman.

Sinode menegaskan bahwa Gereja dipanggil untuk keluar dari zona nyaman dan hadir di tengah realitas hidup umat. Prapaskah mengajarkan kita bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada doa dan pantang, tetapi berbuah dalam keterlibatan sosial. Ketika Gereja melihat kenyataan Papua, kita sesungguhnya sedang melihat ketimpangan pendidikan, akses kesehatan yang terbatas, kemiskinan, konflik, perusakan alam dan tekanan terhadap budaya.  Berhadapan dengan itu, Gereja tidak boleh tinggal diam. Justru di situlah misi dimulai: menghadirkan harapan di tengah keterbatasan. Refleksi ini sejalan dengan arah dasar pastoral Sinode yang menekankan kehidupan yang lebih manusiawi, keadilan, perdamaian, dan pemeliharaan ciptaan.

Prapaskah mengajak kita masuk ke dalam keheningan untuk bertanya: di mana posisi saya dalam misi Gereja ini? Sinode menegaskan pentingnya keterlibatan umat awam melalui komunitas basis dan kelompok kategorial. Ini berarti Gereja bukan hanya tanggung jawab imam atau biarawan-biarawati, tetapi seluruh umat Allah. Setiap orang dipanggil menjadi murid misioner di lingkungan masing-masing mulai dari dalam keluarga keluarga, di sekolah, tempat kerja, dan masyarakat. Pertobatan Prapaskah menjadi nyata ketika kita berani melangkah keluar: mendampingi yang lemah, membangun solidaritas, dan merawat kehidupan bersama.

Inspirasi spiritual yang diangkat dalam perjalanan pastoral ini adalah semangat Santo Fransiskus: “Perbaikilah Gerejaku”. Suara Tuhan dari salib yang terdengar saat Santo Fransiskus sedang berdoa di Gereja San Damiano itu merupakan suara Tuhan bagi Gereja di Tanah Papua saat ini. Kita dipanggil untuk memperbaiki Gereja dengan kasih dan tindakan nyata. Dalam konteks Sinode, memperbaiki Gereja berarti membangun persekutuan yang hidup, partisipatif, dan solider. Gereja misioner bukan Gereja yang sempurna, tetapi Gereja yang terus bertumbuh karena mau mendengarkan dan belajar dari umatnya. Prapaskah menjadi ruang latihan kerendahan hati dan berani mengakui kekurangan serta membuka diri terhadap pembaruan.

Lebih jauh, Sinode mengingatkan bahwa misi Gereja bersifat menyeluruh: menyentuh pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, hukum, dan perdamaian. Maka praktik rohani Prapaskah yaitu puasa, doa, dan amal, menemukan maknanya ketika dihubungkan dengan perjuangan konkret demi martabat manusia. Puasa mengajar kita solidaritas dengan yang miskin. Doa menguatkan komitmen pelayanan. Amal menjadi tanda kasih yang nyata. Inilah spiritualitas misioner yang diharapkan Sinode: iman yang bergerak.

Di tengah tantangan Papua, Gereja dipanggil menjadi tanda pengharapan. Harapan itu tidak lahir dari program besar semata, tetapi dari kesetiaan pada tindakan kecil yang dilakukan bersama. Komunitas basis yang saling menguatkan, orang muda yang terlibat pelayanan, keluarga yang menjadi sekolah kasih. Semua ini adalah wujud Gereja misioner yang diimpikan Sinode.

Kiranya Pekan Prapaskah ini membantu kita menghidupi arah baru Gereja dengan hati yang diperbarui. Dengan berjalan bersama kita belajar melihat Kristus hadir dalam wajah saudara-saudari kita. Dari sana, Gereja sungguh menjadi sahabat perjalanan masyarakat Papua: mendengar, menyembuhkan, dan membangun harapan.

Tags: MisionerPrapaskah 2026Sinode
SendShareTweet

Nokenwene.com merupakan media publikasi bagi Jurnalisme Warga Noken yang digagas para sahabat jurnalis dan aktivis di Wamena, Papua

© 2017-2022 Nokenwene.com. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Contact
  • Depan
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Nokenwene.com – Jurnalisme Warga Noken
  • Tentang Kami

© 2022 Nokenwene