Wamena, nokenwene.com – Pengurus Sekolah Adat Hugulama dan sejumlah sekolah persiapan lainnya telah membentuk Panitia Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-II yang akan dilakukan pada tahun 2027 mendatang.
Pembentukan ini dilakukan pasca evaluasi Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-I 2026 di Gedung Gereja Katolik Kapel Santo Yohanes Pembaptis Yogonima, kampung Yogonima, distrik Itlay Hisage, Jayawijaya, Papua Pegunungan pada awal februari.
Ronal Hisage terpilih sebagai ketua panitia untuk festival tahun 2017. Sedangkan Nikodemus Walalua sebagai sekretaris dan Frengky Hisage dipercayakan sebagai bendahara. Ketiganya dipilih oleh 150an orang yang hadir dalam rapat evaluasi dan pembentukan panitia baru.
“Komposisi kepanitiaan lengkap akan dibentuk dalam waktu dekat. Namun, soal pelaksanaan tempat telah dipastikan bahwa Festival Sekolah Adat Hugulama Ke-II 2027 akan dipusatkan kembali di kampung Yogonima” kata pengurus sekolah melalui rilis.
Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) di Tanah Papua, Prof. Dr. Stepanus Hanggar Budi Prasetya, S.Sn., M.Si dan pimpinan YPPK KMS, Drs. Simon Mendopma serta tamu undangan lain turut menyaksikan dalam proses pembentukan panitia. Pihaknya mendukung untuk pelaksanaan festival tahun besok.
“Besar kemungkinan dalam waktu dekat ISBI di Tanah Papua akan mengirim mahasiswa/i untuk memberi pelatihan khusus bagi pemuda dan pemudi di Sekolah Adat Hugulama. Bukan hanya untuk kepentingan perayaan besok, melainkan untuk mempersiapkan dalam rangka lomba festival di Jepang” kata pengurus.
Panitia terpilih berharap agar semua elemen masyarakat bekerjasama dalam menyukseskan kegiatan tahunan bagi sekolah adat ini. Karena kerja sama merupakan tolak ukur yang amat penting dalam penyelenggaraan kegiatan besar seperti ini.
“Peran pemerintah daerah hingga pusat sangat penting dalam festival tahun besok. Karena masyarakat telah memulai secara mandiri dari tahun ini, sehingga tahun besok tingkat komunikasi dan kolaborasi nampak sejak awal” Kata Ronald Hisage, ketua Panitia Festival II.
Katanya,Dinas Pendidikan serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayawijaya perlu mendukung kegiatan ini, sebab sekolah adat erat kaitan dengan pendidikan berbasis adat dan mengembangkan kebudayaan serta pariwisata yang ada di kampung-kampung.
“Panitia tidak membuat proposal bantuan dana, namun membutuhkan saran dan masukan dari pemerintah daerah dalam membangun kolaborasi kerja. Diharapkan supaya dalam waktu dekat bisa beraudiensi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan demi penyelenggaraan festival sekolah adat pada tahun besok” Ujarnya (*)
Pewarta: Jurnalis Warga Nokwn Wamena*
