Dekai,nokenwene.com—Musim kemarau yang berlangsung selama kurang lebih tiga bulan terakhir menyebabkan debit air Sungai Logbon di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, terus menyusut. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas transportasi sungai melalui Pelabuhan Lokpon, Dekai, sehingga kapal pengangkut BBM dan kebutuhan pokok kesulitan masuk maupun keluar.
Terhambatnya jalur transportasi sungai tersebut turut memicu kenaikan harga BBM dan berbagai kebutuhan masyarakat di Kota Dekai.
Kabupaten Yahukimo selama ini mengandalkan dua jalur utama untuk distribusi barang, yakni jalur udara dan jalur laut atau sungai. Namun, distribusi BBM dalam jumlah besar ke Dekai lebih banyak mengandalkan jalur sungai. Ketika Sungai Brasa mengalami kekeringan, kapal pengangkut BBM dan sembako tidak dapat beroperasi secara normal.

Akibat kondisi tersebut, masyarakat terpaksa mendapatkan BBM melalui jalur alternatif menggunakan perahu-perahu kecil dari arah Asmat menuju Dekai. Kondisi ini membuat biaya distribusi meningkat dan berdampak pada harga jual di tingkat masyarakat.
Saat ini, harga BBM eceran di Dekai dilaporkan mencapai sekitar Rp40.000 hingga Rp50.000 per liter.
Salah seorang penjual eceran di Kota Dekai, Santi, mengatakan tingginya harga BBM bukan semata-mata karena pedagang eceran, melainkan akibat panjangnya rantai distribusi dari Asmat hingga ke Dekai.
“Kami menjual Rp40.000 sampai Rp50.000 karena kami ini penjual eceran keempat. Dari Asmat dijual kepada pedagang, kemudian dibawa ke Lokpon dan dijual lagi kepada pengusaha, setelah itu baru sampai kepada kami. Jadi ini bukan kesalahan kami sebagai penjual eceran, tetapi persoalannya ada pada rantai distribusi,” ungkapnya.
Selain BBM, kondisi Sungai Brasa yang surut juga dikhawatirkan berdampak terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok di Dekai. Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk memastikan pasokan BBM dan sembako tetap tersedia selama jalur sungai belum dapat dilalui kapal.
Salah satu langkah yang dinilai perlu dipertimbangkan adalah mendatangkan BBM melalui jalur udara selama kondisi sungai belum memungkinkan untuk dilalui kapal, terutama untuk menjaga ketersediaan energi dan menekan kenaikan harga di tingkat masyarakat.
Listrik Ikut Terganggu
Persoalan lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah kondisi kelistrikan di Dekai. Pemadaman listrik yang terjadi berulang kali dinilai menghambat aktivitas masyarakat, pelaku usaha, maupun pelayanan di perkantoran.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan pasokan BBM dan listrik agar aktivitas perekonomian serta pelayanan publik di Kabupaten Yahukimo dapat kembali berjalan normal.
Warga Diminta Waspada Masalah Kesehatan
Kondisi kekeringan juga perlu mendapat perhatian dari sisi kesehatan. Berkurangnya ketersediaan air bersih dapat menyebabkan masyarakat menggunakan air dengan kualitas yang kurang baik untuk mandi maupun kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan diri dan lingkungan, memastikan air yang digunakan untuk minum aman, serta memperhatikan kebersihan air untuk mandi guna mengantisipasi munculnya gangguan kesehatan, termasuk penyakit kulit.
Kondisi Sungai Brasa yang mengering menjadi persoalan serius karena tidak hanya menghambat transportasi dan distribusi barang, tetapi juga berdampak pada harga BBM, kebutuhan pokok, kelistrikan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat di Kabupaten Yahukimo.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan segera mencari solusi jangka pendek selama musim kemarau berlangsung, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi agar persoalan serupa tidak kembali mengganggu distribusi kebutuhan masyarakat di masa mendatang.
Pewarta : Nathan Sama
