Wamena, nokenwene.com – Berbagai pihak di Wamena Kabupaten Jayawijaya mengusulkan agar pemerintah melakukan rekonsiliasi ulang atau evaluasi hasil rekonsiliasi konflik yang sebelumnya telah dilakukan pada 23 mei lalu di Mapolres Jayawijaya. Usulan tersebut bahkan disampaikan oleh Wakapolres Jayawijaya, Kompol Alberthus Mabel.
Pada 23 Mei 2026, Pemerintah yang difasilitasi oleh Wamedagri RI Ribka Haluk melakukan rekonsiliasi perdamaian pascakonflik yang terjadi pada 14 – 16 Mei di Wamena. Perdamaian yang dipusatkan di Mapolres Jayawijaya itu ditandai dengan prosesi adat patah panah, sebagai simbol damai.
Namun hampir dua bulan setelah mediasi, warga Wamena masih merasa tidak nyaman untuk beraktivitas, berbagai gesekan masih terjadi. Pada 6 juli malam, dilakukan aksi pembakaran sejumlah rumah di Wouma, ada pula tulisan provokatif di Wouma yang melarang orang Lanny masuk Wouma.
“Kami orang Lanny yang dari sebelah (Wouma) ke sini itu kami pengungsi, perang antara Kurima dan Lanny sudah selesai, sudah lepas panah tapi pembakaran terus lanjut, jadi pembakaran itu dalam rangka apa, tujuannya apa, masalahnya apa itu teman – teman harus jelaskan” Ungkap seorang pengungsi melalui video yang diunggah di medsos pada 18 juli 2026, merespon pembakaran 6 juli di Wouma.
Video berdurasi, 5,58 menit itu juga menyampaikan beberapa poin pernyataan yang berpotensi menimbulkan konflik susulan. Warga dalam video itu juga mengancam akan membakar semua rumah di Wouma dan wilayah itu dikosongkan sebagai medan perang suku.
Atas berbagai gesekan sosial yang masih saja terjadi di Wouma, sejumlah pihak di Wamena telah menyampaikan kepada Pemerintah, dalam hal ini Wamendagri Ribka Haluk sebagai mediator awal, Gubernur Papua Pegunungan dan Bupati Jayawijaya serta pihak terkait lainnya untuk segera melakukan evaluasi proses perdamaian konflik di Wamena.
Desakan itu diantaranya disampaikan oleh DPRP Provinsi Papua Pegunungan dan aktivis HAM Papua Theo Hesegem pada awal Juli 2026. Pada 11 Juli 2026, ketua DPRK Jayawijaya Lucky Wuka juga sempat bersuara agar pemerintah melakukan tindakan lanjutan pasca rekonsiliasi 23 Mei 2026.
Akan tetapi hingga saat ini, belum ada tindakan merespon desakan para pihak tersebut yang dilakukan oleh Pemerintah, baik Pemda Jayawijaya maupun Pemprov Papua Pegunungan, sementara gesekan di tengah masyarakat yang berpotensi konflik susulan semakin nyata.
Lambannya respon Pemerintah ini membuat ketua Analisis Papua Strategis (APS) Papua Pegunungan Sonny Lokobal angkat bicara, menurutnya berbagai pihak, terutama pemerintah mesti segera lakukan tindakan antisipasi sejak dini sebelum terlambat.
“Maka saya mita kepada pemerintah Jayawijaya Bapak Bupati dan Wakil Bupati, para anggota DPR dan juga kita sama – sama melihat masalah kalo terjadi di Wamena , kita selesaikan dengan cara Wamena untuk mengimbangi setiap isu – isu yang miring, dengan melihat juga latar belakang persoalan” Harap Sonny Lokobal
Ia menyebut, tidak ada masalah yang tak ada jalan keluar, jika duduk bersama dengan berbagai pihak pasti ada jalan keluar yang bisa ditemukan sebagai solusi bersama demi menjaga keamanan yang baik di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
“Dengan duduk bersama, lakukan langkah – langkah identifikasi, lakukan musyawarah dan membiarkan masyarakat itu berbicara apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka akan simpulkan itu yang akan menjadi ketetapan hukum” Ujarnya.
Sebelumnya, Wakapolres Jayawijaya Kompol Albertus Mabel, S.IK., M.AP mengatakan, rekonsiliasi konflik yang difasilitasi langsung Wamendagri Ribka Haluk pada 23 Mei belum maksimal dan tidak sepenuhnya menyelesaikan konflik antar warga. Ritual patah panah saat itu tidak dibangun dengan komunikasi terlebih dahulu dari kedua kubu yang bertikai.
Oleh karena itu, Wakapolres menyarankan kepada Pemerintah untuk melakukan komunikasi ulang kepada para pihak dan lakukan rekonsiliasi yang lebih komprehensif, sebab hingga saat ini gesekan – gesekan sosial masih terjadi di tengah masyarakat.
“Perlu dikomunikasi ulang dari pihak Kurima dan pihak Lanny. Minggu yang lalu kebakaran di Wouma itu saya sendiri dengan bapak Kapolres turun di lapangan, itu anak – anak mabuk. Menurut saya itu memancing teman – teman dari Lanny” Kata Wakapolres Jayawijaya, Rabu 15 Juli di Wamena*.
Pewarta: Jurnalis Warga Noken Wamena*
