Minggu, Maret 1, 2026
NokenWene
No Result
View All Result
No Result
View All Result
NokenWene
No Result
View All Result
Home Opini

Gereja yang Solider dan Terlibat di Tengah Masyarakat

Refleksi Pekan Prapaskah II

in Opini
Jalan Salib di Taman Doa Matopai-Hanowene Dekai Kabupaten Yahukimo

Jalan Salib di Taman Doa Matopai-Hanowene Dekai Kabupaten Yahukimo

Share on WAShare on FB

Oleh Florianus Geong

 

RelatedPosts

Gereja Misioner di Tengah Masyarakat Papua

Iman yang Diuji: Spiritualitas Ekologi di Tengah PSN Merauke

Pada Pekan Prapaskah II ini, kita diajak merenungkan panggilan untuk menjadi Gereja yang solider dan terlibat di tengah masyarakat. Tema ini bukan sekadar gagasan pastoral, melainkan buah pergumulan Sinode Keuskupan Jayapura yang baru saja berakhir.

Solidaritas Gereja berakar pada misteri Inkarnasi: “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Allah tidak menyelamatkan manusia dari kejauhan. Ia masuk ke dalam sejarah, menyentuh luka, memanggul salib hingga mengalami kelamnya makam. Dari misteri inilah Gereja menerima panggilan untuk hadir secara nyata di tengah penderitaan: korban kekerasan, keluarga yang mengungsi, anak-anak yang kehilangan masa depan karena sekolah tidak aktif, orang-orang kecil yang terpinggirkan oleh sistem dan konflik.

Di Papua, kondisi seperti itu menjadi informasi rutin yang bisa kita lihat di media arus utama maupun media sosial. Kita pun seringkali merasakan dan melihat langsung kondisi yang miris itu. Konflik karena politik maupun konflik horizontal hingga pembiaran akan layanan public yang tidak aktif menjadi sebab berbagai penderitaan di Tanah Papua. Selain itu, pencaplokan ruang dan sumber kehidupan masyarakat turut berkontribusi besar bagi lahirnya penderitaan tiada akhir di Papua.

Data tentang kekerasan dan korban sipil di Papua bukan sekadar angka. Di balik setiap angka ada wajah: seorang ibu yang kehilangan anak, seorang anak yang tumbuh tanpa ayah, seorang pemuda yang kehilangan harapan. Ketika bentrokan bersenjata terjadi, bukan hanya peluru yang melukai, tetapi juga rasa aman yang terkoyak. Ketika pengungsian terjadi, bukan hanya rumah yang hilang, tetapi juga kenangan dan akar kehidupan. Ketika hutan dan alam dihancurkan untuk tambang dan proyek ambisius lainnya, bukan hanya pohon yang tumbang tetapi fondasi dan ruang hidup masyarakat adat beserta budaya dan relasinya pun hancur. Di tengah realitas inilah Gereja dipanggil untuk menjadi sakramen perdamaian yaitu sebagai tanda kehadiran Allah yang menyembuhkan dan mempersatukan.

Sinode menegaskan bahwa solidaritas adalah bentuk konkret pewartaan Injil. Artinya, iman tidak boleh berhenti di altar. Iman harus turun ke jalanan, masuk ke honai-honai, menyapa pasar, sekolah, rumah sakit, bahkan lokasi pengungsian hingga hutan yang sedang dihancurkan. Gereja diminta mendahulukan mereka yang miskin dan terluka. Bukan karena yang lain tidak penting, tetapi karena di dalam diri merekalah wajah Kristus paling nyata tersalib. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Keberpihakan Gereja pada mereka yang menderita merupakan imperative dari iman Kristiani. Gereja dituntut untuk berada bersama dan berpihak pada orang-orang yang menderita. Ini bukan suatu tawaran tetapi merupkan inti iman Kristiani. Tanpa keberpihakan kepada orang-orang yang menderita, kita tidak pantas lagi disebut sebagai pengikut Kristus.

Namun solidaritas bukan hanya soal bantuan materi. Solidaritas adalah keberanian untuk terlibat. Terlibat berarti mau mendengar kisah yang menyakitkan tanpa menghakimi. Terlibat berarti hadir dalam dialog ketika orang lain memilih diam atau bermusuhan. Terlibat berarti menjadi jembatan di antara pihak-pihak yang terpisah oleh curiga dan dendam.

Untuk itu, Sinode mengajak Gereja membangun dialog dengan semua pihak: pemerintah, gereja-gereja lain, agama-agama lain, lembaga adat, pengusaha, aparat keamanan, hingga TPNPB. Ini bukan tugas mudah. Tetapi Injil memang tidak pernah menjanjikan jalan yang mudah.

Inspirasi indah kita temukan dalam teladan Fransiskus dari Assisi. Di tengah zaman perang salib dan kebencian antaragama, ia menyeberangi batas dan menemui Sultan Malik-el-Kamil. Ia tidak datang membawa pedang atau argumen tajam, melainkan kerendahan hati dan persaudaraan. Ia menunjukkan bahwa damai tidak lahir dari dominasi, tetapi dari hati yang bebas dari keinginan menguasai. Ia memilih menjadi yang kecil agar dapat merangkul semua.

Sikap Fransiskus inilah yang menjadi cermin bagi Gereja di Papua. Di tengah konflik dan polarisasi, kita dipanggil bukan untuk memperkeruh suasana, tetapi untuk menyejukkan. Bukan untuk menambah tembok, tetapi membangun jembatan. Bukan untuk membela kepentingan kelompok sempit, tetapi membela martabat manusia sebagai citra Allah.

Prapaskah mengajak kita bertanya secara pribadi: apakah aku sungguh peduli pada penderitaan sesamaku? Apakah aku hanya menjadi penonton berita konflik, atau berani menjadi pembawa damai di lingkunganku? Solidaritas dimulai dari hal kecil: hidup bertetangga dengan rukun, tidak menyebar kebencian, membantu keluarga yang kesulitan, mendampingi orang sakit, memberi ruang bagi kaum disabilitas, menjaga anak-anak dari bahaya narkoba dan miras. Dari komunitas basis yang kecil, kasih dapat menjalar luas.

Gereja yang solider bukan Gereja yang sempurna, tetapi Gereja yang mau terluka bersama umatnya. Ia menangis bersama yang berduka, tetapi juga bangkit bersama yang berharap. Ia tidak lelah mempromosikan Papua sebagai Tanah Damai, walau realitas sering bertolak belakang. Karena iman percaya bahwa kebangkitan selalu mengikuti salib.

Kiranya dalam Pekan Prapaskah II ini, kita belajar berjalan lebih dekat dengan yang menderita. Semoga Gereja sungguh menjadi rumah bagi yang terluka, sahabat bagi yang terpinggirkan, dan jembatan bagi yang bermusuhan. Dengan demikian, di tengah tanah yang sering diliputi kabut konflik, cahaya Kristus tetap menyala melalui umatnya di Keuskupan Jayapura.

Tags: Keuskupan JayapuraPrapaskah 2026Solider dan Terlibat
SendShareTweet

Nokenwene.com merupakan media publikasi bagi Jurnalisme Warga Noken yang digagas para sahabat jurnalis dan aktivis di Wamena, Papua

© 2017-2022 Nokenwene.com. All rights reserved.

No Result
View All Result
  • Contact
  • Depan
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Nokenwene.com – Jurnalisme Warga Noken
  • Tentang Kami

© 2022 Nokenwene