Wamena,nokenwene.com – Membangun semangat gotongroyong dan kesadaran demi mempertahankan pangan lokal (ubi jalar/hepuru), warga kampung Menagaima Distrik Maima, Kabupaten Jayawijaya Papua Pegunungan, buka lahan kebun baru setelah lahan sebelum telah ditanami Ub jalar.
Hal tersebut dilakukan demi melestarikan dan pertahankan ubi jalar sebagai makanan pokok lokal bagi orang Wamena dan Papua Pegunungan pada umumnya.

Ketua kelompok Ubi jalar, Emaus Wamu kepada nokenwene.com di Wamena, pada Senin (16/2/2026), menjelaskan pihaknya memilih berkebun untuk tanam ubi jalar karena mengingat banyak ubi asli yang sedang hilang tinggal nama.
Selain itu, Wamu juga menjelaskan bahwa orang Wamena akan menyulitkan diri sendiri atau menyiksa diri jika beras dijadikan makanan poko bagi masyarakat yang tak berpenghasilan tetap. Karena makanan pokok orang wamena semestinya adalah ubi jalar (hepuru) bukan beras.
“Jadi, akibat banjir besar yang lalu itu, kita suda bikin kebun dan suda selesai tanam. Sekarang kita bukan kebun baru ini, mulai bulan Desember 2025 itu kami masuk pembabatan dan setelah bakar rumput itu, hari [senin,16/2/2026] ini kita bagi beden untuk selanjutnya kerja masing-masing,” Ucap Wamu.
Warga Menagaima Distrik Maima merupakan penduduk yang terkena dampak dari banjir skala besar yang terjadi di tahun 2015 lalu, sehingga berkebun merupakan cara atau upaya mereka memulihkan keadaan tersebut.
Untuk itu, selain mendorong program Nasional dalam hal kelompok tani persawahan di wilayah Papua Pegunungan khusus Jayawijaya, pihaknya mengingatkan kepada Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi untuk perlu memperhatikan petani ubi jalar guna mempertahankan makanan pokok yang semestinya bagi orang asli Papua Pegunungan yang kini menuju kepunahan jika tak pertahankan.
“Memang kami di Menagaima ada kelompok persawahan, tapi bagi kami susah untuk bertahan hidup dengan itu. Karena Tuhan suda kasih kita orang Wamena dengan bercocok tanam Ubi atau hepuru dan tanaman asli lainnya. Jadi Pemerintah juga harus adil dalam mendorong kelompok tani. Jangan hanya dorong kelompok tani modern, sementara tani lokal diabaikan,” Tegas Emaus Wamu.
Wamu, yang juga selaku pewarta umat Katolik Kepela Minimo itu mengajak anggota kerjanya maupun masyarakat luas tetap berkebun dengan memanfaatkan lahan tidur yang ada demi mendukung program ketahanan pangan sesuai konteks wilayah masing-masing. Karena, menurutnya, berdasarkan filosofi orang Wamena yang dikenal tangan bergerak maka mulutpun akan bergerak (heki awolok halok, hape awok).
Dalam proses pengerjaan lahan sebelumnya maupun lahan kebun yang baru itu, pihaknya mengaku tak ada dukungan dari pihak manapun termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten Jayawijaya dan Papua Pegunungan.
“Kami sangat membutuhkan bantuan seperti bama (bahan makan) dan lainnya seperti gula, kopi dan rokok untuk menunjang kami kerja. Tapi ya, kami juga kesulitan sampaikan keluhan kami kepada pemerintah karena tidak ada orang yang bisa menjembatani kami,” Ungkap Wamu (*)
Pewarta : Onoy Lokobal/Jurnalis Warga Noken Wamena*
