74 Tahun Merdeka, di Wamena Masih ditemukan Tamat SMA Belum Bisa Baca Tulis

  • Whatsapp
Dari kiri, Marthen Medlama, Bambang Budiandoyo dan Yohanes Walilo saat dialog di RRI Wamena /JW Noken

Wamena, nokenwene.com – SDM Unggul Indonesia Maju, adalah tema HUT Republik Indinesia ke-74 tahun 2019, menjadi tema yang bertolak belakang dengan realita sumber daya manusia di Kabupaten Jayawijaya Papua, sebab negeri timur Indonesia ini masih ditemukan anak-anak tamatan SMA bahkan sarjana yang sama sekali tidak bisa baca tulis.

Hal itu terungkap dalam dialog RRI Wamena kerjasama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) bertajuk “Pembangunan sector pendidikan Jayawijaya” merujuk tema HUT RI ke 74 SDM unggul Indonesia Maju, Jumat 16 Agustus 2019

“terus terang saja kemarin (formasi 2018) tes CPNS itu banyak orang tidak bisa membaca menulis padahal dia suda sarjana” Ungkap Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo, S.Sos, M.Si, salah satu narasumber dialog RRI Wamena kerja sama PPMN itu.

Untuk itu kata Sekda di usia ke-74 Indonesia merdeka kita menata pendidikan ke arah yang lebih baik agar SDM di Jayawijaya kedepan bisa disiapkan sebagaimana tema Hut, SDM Unggul Indonesia Maju.

Akademisi Jayawijaya, Marthen Medlama S.Pd, M.Si, M,T.SOL mengatakan kondisi pendidikan di Jayawijaya saat ini sangat memprihatinkan, pendidikan tanpa memperhatkian kualitas, tanpa proses, asal terima lalu tamat.

“persoalan hari ini siapa yang salah, bahwa pendidikan itukan kita bicara in proces out tapi sekarang di Wamena di pegunungan ini dia in langsung out tanpa proses. Jadi apa yang tadi pak sekda sampaikan itu kita jumpai di (kampus) STIMIK juga, teman-teman di (kampus) STKIP, STISIP Yapis juga. Banyak adik-adik kita yang masuk kulia tapi tidak tahu tulis membaca” ungkap Marthen Medlama, narasumber dialog RRI Wamena lainnya.

Sehigga Marthen Medlama yang juga ketua Sekolah Tinggi Ilmu Management Informatika dan Teknik Kompiuter (STIMIK) Agamua Wamena ini membijakinya dengan pendidikan pra kulia, belajar membaca dan menulis bagi calon mahasiswanya.

“di STIMIK itu saya lakukan begini, satu bulan stenga kasih latihan dorang (mereka) dulu belajar membaca dan matematika dasar. Coba bayangkan lulusan SMA tapi kita bikin pra kulia lagi supaya mereka tahu baca. Kita mau salahkan siapa, ya sebagai anak daerah kami harus tanggung jawab” Ujar Marthen.

Padahal,hari ini kita berada pada usia 74 Tahun, jika di analogikan degan usia manusia suda cukup tua, tapi hari ini anak-anak kita banyak yang tidak tahu membaca ketika hendak masuk perguruan tinggi.

“74 tahun tapi Negara punya PR besar daerah punya PR besar, hari ini anak-anak kita banyak yang tidak tahu membaca. Sekarang kita mau salahkan siapa” Ujar Marthen

Sekretaris Dinas P dan P Jayawijaya, Bambang Budiandoyo, S.Pd, M.Pd menyatakan resah jika ada temuan tidak bisa baca tulis, tapi sesungguhnya hal itu merupakan kasus yang tidak mewakili seluruh proses pendidikan yang ada di seluruh satuan pedidikan  Jayawijaya.

“kalaopun hal-hal yang disampaika oleh pak sekda atau pak Marthen tadi terjadi, ya barangkali saya berharap itu semacam sampel yang tidak bisa kemudian dijeneralisasi bahwa semua usaha pelaksanaan pemberdayaan manusia melalui  pendidikan seperti itu tidak”

Karena kata Bambang, ada upaya-upaya yang terus dilakukan, seperti literasi untuk menuntaskan masalah baca tulis hitung sebagaimana yang disampaikan temuannya. Tapi karena investasi pendidikan itu butuh waktu lama, 5 sampai 10 tahun kemudian baru bisa lihat hasilnya.

Pewarta: Jurnalis Warga Noken Wamena

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.