Lahir di Hutan dan Dikira Meninggal, Seorang Bayi Pengungsi Selamat Sampai Wamena

  • Whatsapp
Seorang ibu pengungsi asal Yigi bersama anaknya. Ibu ini melahirkan di hutan saat sedang melarikan diri menyusul konflik di Nduga pada Desember 2018.

Seorang ibu menyambut kami di ruang tamu dengan wajah datar. Matanya menelisik kami satu per satu. Dalam gendongannya, seorang bayi berusia 6 bulanan tertidur lelap.

Di ruangan belakang seorang ibu dengan bayi lainnya enggan menemui kami.

Muat Lebih

Sorot matanya menjelajahi Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Pengungsi Nduga dan Tim Kesehatan PAM GKI Port Numbay.

Hari itu, tim kesehatan dari PAM GKI Port Numbay melakukan pelayanan kesehatan bagi pengungsi di berbagai titik di Wamena.

Di rumah kos-kosan ini, tim relawan mendengar ada pengungsi yang baru tiba dan sedang sakit. Bersama Tim Kesehatan, Tim Relawan mendatangi rumah kos-kosan itu.

Ini pertama kalinya pengungsi di tempat ini dikunjungi Tim Relawan.

“Kami baru tahu kalau ada juga pengungsi di lokasi Potikelek ini. Kami tahu dari pengungsi lain yang melaporkan ke kami untuk segera mendatangi lokasi ini karena ada pengungsi yang sedang sakit,” ungkap Raga Kogeya dari Tim Relawan.

“Anak saya sakit, susah bernafas. Selain itu (ia) sering batuk berdahak”, jelas sang ibu menjawabi pertanyaan para dokter.

Sang ibu yang tak ingin namanya disebutkan bercerita dengan tenang bagaimana bayinya sakit.

“Saya baru tiba dari Kuyawage. Kami (berada) di sana sejak awal Desember. Sebelum di Kuyawage, kami di hutan beberapa Minggu,” jelasnya.

Ibu ini merupakan satu dari sekian banyak ibu yang dikabarkan melahirkan bayi di hutan tanpa bantuan tenaga kesehatan.

“Pada tanggal 4 Desember 2018 itu, saya sudah sangat kesakitan. Tapi karena bunyi tembakan terus-menerus dari darat dan helikopter, terpaksa saya ikut lari bersama keluarga yang lain. Awalnya saya tidak mau ikut karena sangat sakit, tapi karena tembakan terus mendekat, saya paksa diri untuk lari,” cerita sang ibu.

Melarikan diri ke hutan menjadi pilihan masyarakat dari berbagai distrik di Nduga pasca kejadian pembunuhan pekerja PT Istaka Karya awal Desember lalu.

Kejadian ini ditanggapi pemerintah Indonesia dengan melakukan operasi pengejaran TPNPB wilayah Kodap III yang berada di bawah pimpinan Egianus Kogeya.

“Pada tanggal 4 Desember itu juga saya akhirnya melahirkan di hutan. Hanya ada keluarga yang membantu. Tapi saat itu kami ketakutan jika aparat terus menembak hingga ke tempat persembunyian kami di hutan. Karena itu kami harus tetap melanjutkan pelarian atau mencari gua yang bisa untuk bersembunyi,” jelasnya dalam Bahasa Nduga.

“Saya hanya punya selembar kain saat itu. Jadi setelah melahirkan, saya membungkus anak saya dengan kain yang ada lalu masukan dalam noken. Di sana kan sangat dingin. Jadi waktu kami jalan lagi, saya merasa bayi saya sudah tidak bergerak. Kami pikir dia sudah meninggal. Keluarga sudah pasrah, bahkan ada yang suruh saya buang saja. Tapi saya paksa harus bawa terus. Kalau meninggal pun harus saya kuburkan dengan baik,” jelasnya terbata-bata.

Karena dirinya terus memaksa untuk membawa bayi tersebut, saudara laki-laki ibu ini membuat api dan memanggang daun lalu menempelkan pada sekujur tubuh sang bayi.

“Setelah omnya menempel daun yang dipanaskan di api, barulah dia bernafas, lalu minum susu”, tambahannya dengan mata berkaca-kaca.

Pelayanan Kesehatan

Ibu ini hanyalah satu dari sekian pengungsi yang melahirkan tanpa pertolongan tenaga kesehatan. Ada beberapa ibu yang terpaksa melahirkan diri di hutan.

Tanpa bantuan medis, ada ibu yang meninggal bersama bayinya pasca melahirkan, demikian pula beberapa pengungsi akhirnya meninggal dunia karena sakit dan tidak mendapat pertolongan medis.

“Sudah banyak pengungsi Nduga yang meninggal karena sakit dan tidak mendapatkan bantuan kesehatan. Di Wamena saja sudah banyak yang meninggal dunia, apalagi yang di hutan,” jelas Ence Geong, Koordinator Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Pengungsi Nduga.

Ence menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan untuk para pengungsi.

Banyak pengungsi yang sakit namun, kata dia, mereka masih trauma untuk bertemu orang baru di lingkungan yang tidak mereka kenal.

“Karena itu kami berharap agar pemerintah serius mengurus aspek kesehatan. Sediakan posko kesehatan untuk pengungsi,” tambah Sekretaris Eksekutif Yayasan Teratai Hati Papua ini.

Pewarta: Yura Nirigi (JW Ninmin Nduga)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.