Pengungsi Nduga Masih Trauma

  • Whatsapp
Kegiatan pengobatan pengungsi Nduga di Wamena oleh PAM GKI Port Numbai
Suasana pengobatan pengungsi Nduga oleh tim kesehatan PAM GKI Port Numbai

Persekutuan Anggota muda (PAM) GKI Port Numbai mengunjungi pengungsi asal Nduga di Wamena Jumat (19/04/2019). Kunjungan ini dilakukan dalam rangka pengobatan, camping dan trauma healing untuk para pengungsi.

Frans Rumbewas, koordinator PAM GKI Port Numbai menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan kunjungan kedua yang dilakukan oleh PAM GKI Port Numbai. Kunjungan sebelumnya terjadi pada bulan Maret dengan melakukan pengobatan dan kegiatan trauma healing.

Muat Lebih

Pengobatan untuk pengungsi dilakukan di beberapa titik pengungsian di Wamena. Sementara kegiatan camping dan trauma healing dilakukan di halaman gereja GKIP Weneroma khusus untuk para pelajar yang sekolah di Sekolah Darurat Weneroma.

Ence Geong, koordinator Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Pengungsi Nduga menjelaskan bahwa ada 713 pelajar asal Nduga yang mengikuti pendidikan di Sekolah Darurat.

Sejak operasi pengejaran TPNPB di Nduga, warga sejumlah distrik mengungsi ke beberapa kabupaten tetangga termasuk di Jayawijaya.

“Meski sudah memasuki bulan kelima mengungsi, masyarakat asal Nduga kurang mendapat perhatian pemerintah. Hingga saat ini belum ada penanganan kesehatan yang secara serius dilakukan oleh pemerintah.”

Kunjungan PAM GKI Port Numbai menjadi salah satu upaya Tim Relawan Kemanusiaan Untuk Pengungsi Nduga dalam menyediakan pelayanan kesehatan dan trauma healing.

Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh PAM GKI Port Numbai ini dilaksanakan selama tiga hari selama masa liburan Paskah.

Meski kunjungan ini berlangsung singkat, Frans Rumbewas berharap agar proses trauma healing dan camping bisa membantu mengembalikan kepercayaan diri dan semangat belajar para siswa pengungsi asal Nduga.

Frans juga berharap agar pemerintah bisa menangani pengungsi secara serius karena sampai saat ini dirinya masih menemukan anak-anak pengungsi yang trauma.

“Masih banyak anak-anak sekolah yang trauma. Kami melihat anak-anak masih takut dengan orang-orang yang belum mereka kenal baik. Karena itu perlu penanganan serius dari pemerintah khususnya dinas terkait,” Harap Frans Rumbewas.

Pewarta Yura Nirigi (JW)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.