Aktivis HAM Pertanyakan Kehadiran Leadham Internasional di Papua

  • Whatsapp
Theo Hesegem /JW Noken
Theo Hesegem / JW Noken

Wamena, nokenwene.com – Kehadiran Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia (Leadham) Internasional di Papua dipertanyakan Aktivis HHA Papua

Ketua Jaringan Advokasi Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Pegunungan Tengah Papua, Theo Hesegem, Pertanyakan kehadiran lembaga yang menamakan diriinya Advokasih HAK Asasi Manusia (Leadham) Internasional Papua di Wamena

Theo Hesegem yang mengaku pembela HAM terkemuka di Pegunungan Tengah Papua itu mengatakan kaget dan menyesal karena informasih yang diperolehnya, lembaga itu dalam perekrutannya memungut biasa pendaftaran untuk menjadi anggota
“bagi saya sangat aneh kalao setiap anggota Lembaga mendaftarkan dengan membawa uang pendaftaran rp. 500 hingga sampai 800 ribu rupiah” Ungkap Teho Hesegem kepada nokenwene.com, di Wamena, rabu (07/11/18)

Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia (Leadham) Internasional, Sebelumnya pada tanggal 11 Oktober 2018, melantik 969 angggota dari 8 kaupaten di Pegunungan Tengah Papua, dipusatkan di Wamena

Kata Theo, tidak benar jika lembaga yang menamakan diri untuk memperjuangkan HAM tapi memungut biaya dari calon anggootanya, karena sejatihnya biacara kemanusiaan adalah panggilan hati nurani dan bekerja secara iklas untuk kemanusiaan

“menurut saya sebagai pembela HAM Independent berpendapat bahwa lembaga yang pungut-pungut biaya sangat tidak benar dan tidak tepat, karena lembaga kemanusiaan tidak perna pungut biaya. Hal ini sangat memalukan lembaga kemanusiaan yang lain. Kerja kemanusiaan adalah panggilan” tegas Theo Hesegem

Oleh karena itu kata Theo, Leadham Internasional yang diketuai Pdt. Yusup L. Tobing, S.Th, MA, dan berpusat di Jakarta itu patut dipertanyakan terutama kepada Komnas HAM sebagai pihak terkait di Negara ini

“harus ditanyakan keapada Komnas HAM dan lembaga kemanusiaan lainnya di Jakarta apakah ada hubungan kerja sama. Saya suda tanya ke komnas HAM Jakarta juga tapi mereka tidak tahu. Komanas HAM juga sangat kaget dengan lembaga ini” katanya

Kehadiran Lembaga itu patut diduga untuk mengelabui isu HAM Papua yang terus mendunia melalui pertemuan-pertemuan internasional terutama oleh Negara-negara Pasifik yang sering mengungkap pelanggaran HAM di Papua

“kita semua tela ketahui bahwa setiap tahun Negara Indonesia selalu di tantang oleh Negara-negara pasifik dan beberapa Negara lainnya terkait dengan maraknya kasus pelanggaran HAM di Papua dalam sidang – sidang umum di PBB” katanya

Disisi lain lanjut Theo, Sangat aneh jika lembaga yang anggotanya baru saja dilantik tapi ketuanya memberikan piagam penghargaan kepada anggota. Penghargaan atas dasar apa? Sedangkan anggotanya baru dilantik

“direktur berikan pengharaan kepada setiap kabupaten di Pegunungan Tengah sedangkan wujud kerja anggotanya belum terlihat dan baru saja dilantik. Ini lucu” tegas Theo Hesegem

Selain itu, nggota dari Leadham Internasional itu notabene para orang tua di kampung dan secara SDM mereka bisa saja belum banyak tahu tentang HAM tapi direkrut sebagai anggota

“saya berpendapat begiini, lembaga yang dimaksud harus mampu menjelaskan dan memberikan pemahaman kepada orang – orang tua dari kampung terkait dengan kerja-kerja HAM, jangan-jangan orang tua yang tidak mengerti tentang HAM mereka digiring dan ditipu” lanjutnya

Sebelumnya sebanyak 969 orang pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Lembaga Advokasi Hak Asasi Manusia (Leadham) Internasional se Pegunungan Tengah dilantik oleh ketua Umum Leadham Internasonal, Pdt. Yusuf L. Tobing, di Wamena (11/10/18)

Pewarta: JW Noken Wamena

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 Komentar