Ancaman Tambang Emas Liar Danowage

Berikut adalah laporan lapangan yang dihimpun dari wilayah Koroway terkait dengan penambangan liar yang sedang dilakukan di sungai Deiram Wilayah Danowage. Selain di Koroway, ada juga penambangan emas liar di wilayah Yahukimo. Akan ada beberapa artikel terkait yang diterbitkan nokenwene.com. Tulisan ini diterima nokenwene.com dari beberapa pekerja sosial di Koroway.

Sungai Deiram

 

Beberapa waktu terakhir, beredar informasi tentang penambangan emas liar di Korowai. Setelah ditelusuri, penambangan emas tersebut dilakukan di wilayah Kepala Sungai Deiram. Hal serupa pernah terjadi pada tahun 2015 lalu di wilayah Danowage.

Beberapa pelajar di Danowage menceritakan pengalamannya menyaksikan para penambang emas liar bekerja di Kepala Sungai Deiram.

Murid pertama Yacob bercerita bahwa dia bekerja kepada penambang emas di daerah Tanah Longsor, arah selatan dari Danowage yang dapat ditempuh selama 15 menit menggunakan ketingting. Yacob menceritakan bahwa dia bekerja pada penambang orang rambut lurus (sebutan untuk pendatang, non-Papua), berasal dari daerah Bugis. Dia bertugas untuk membangun base camp, membawakan peralatan, membelah kayu bakar dan pekerjaan umum lainnya. Namun Yacob ikut menyaksikan bagaimana proses penambangan tersebut dari awal hingga akhir. Yacob bekerja untuk orang yang biasa dipanggil Koprak.

 

Berikut kutipan percakapan antara Pelapor dan Yacob (Y)

Y: Mereka menggunakan alat alkon, karpet, saringan kain, kuali dan juga air perak. Untuk air perak itu berat sekali, hanya setengah jerigen (minyak goreng) itu berat sekali sampai saya tidak bisa angkat. Air perak itu dia kalau ada air  jadi bentuk bulat-bulat.

P: Apakah seberat tabung Elpiji? (27 kg)

Y: Tidak, macam baterai kemarin itu. (baterai aki solar panel seberat 48 kg)

Dari percakapan di atas dapat dianalisis, setengah jerigen minyak goreng kira-kira sebanyak tiga liter. Berat baterai untuk solar panel sebesar pc komputer namun seberat 48kg. Air perak yang dimaksud Yacob adalah air raksa atau merkuri yang merupakan logam berat.

P: Apakah merkuri tersebut dibuang ke dalam kali?

Y: Tidak, mereka menggunakan kembali untuk memproses emas lainnya.

P: Bagaimana cara menggunakan merkuri tersebut.

Y: Air perak digunakan untuk memisahkan emas dengan pasir hitam, dengan cara campuran pasir hitam dan emas dituangkan air sedikit dan merkuri kemudian diaduk-aduk, lalu secara otomatis emas akan berpisah dengan pasir, lalu emasnya diambil sedangkan sisa air, pasir hitam dibuang, merkuri dituangkan ke botol, lalu disaring dengan kain untuk memisahkan air dengan merkuri, lalu merkuri ditampung untuk dipakai lagi sedangan air sisa hasil penyaringan dibuang. Air sisa tersebut dibuang sembarangan, dibuang ke semak-semak, ke tanah bahkan ke sungai.

P: Berapa yang Yakob dapat dari kerja tersebut?

Y: 900 ribu rupiah selama bekerja 12 hari pada penambang tersebut. Selama dua belas hari tersebut mereka menambang emas, namun hasilnya sangat sedikit, sehingga setelah dua belas hari mereka menghentikan proses penambangan di titik tersebut dan berpindah ke Yaniruma. Mereka pun mengajak saya untuk ikut ke Yaniruma, namun saya menolak dengan alasan ingin beribadah, karena waktu itu hari Sabtu.

Peta Danowage

 

Cerita lain diperoleh dari murid lainnya bernama Samuel (S). Berikut cerita Samuel yang bekerja pada penambang asal Kendari di wilayah Bundaran Lazarus. Disebut Bundaran Lazarus karena ada sebum Pulau di tengah sungai dan pemilik atau tuan tanah tersebut bernama Lazarus.

S: Saya bekerja pada orang berbeda. Biasanya dipanggil Jimi dari Kendari. Namun saya tidak banyak melihat aktivitas mereka ketika menambang karena saya tidak diizinkan mengikuti proses menambang emas. Namun saya tahu mereka menggunakan Merkuri karena saya biasanya bertugas untuk membawa merkuri dan beberápa peralatan untuk menambang. Saya bekerja di kali sebelah tara Danowage ke arah Abiowage tepatnya di bundaran Lazarus. Saya dibayar 300 ribu rupiah untuk kerja selama lima hari.

Murid lainnya, Samuel menceritakan pengalamannya bekerja pada para penambang. Samuel bekerja pada orang yang berbeda, biasa dipanggil Jimi, dan berasal dari Kendari. Namun Samuel tidak terlalu banyak terlibat karena Samuel bertugas untuk melakukan pekerjaan umum, dan tidak diijinkan ikut langsung dalam proses penambangan emas. Namun Samuel membenarkan bahwa penambangan tersebut menggunakan merkuri. Samuel bertugas untuk membawa merkuri, beberapa peralatan menambang. Samuel mendapatkan bayaran sebesar 300 ribu untuk bekerja selama lima hari. Samuel bekerja di kali sebelah utara Danowage kearah Abiowage. Ada sebuah daerah bernama bundaran Lazarus, dinamakan bundaran Lazarus karena ada sebuah pulau ditengah sungai dan pemilik atau tuan tanah daerah tersebut bernama Lazarus.

Sementara itu murid ketiga yang berhasil kami wawancarai adalah Yohanis. Yohanis berasal dari Abiowage.  Yohanis bekerja pada orang yang sama dengan Yacob, yaitu Koprak. Kepada kami Yohanis menceritakan bahwa dia bertugas hampir sama seperti Yacob, yaitu melakukan pekerjaan umum, termasuk membawa merkuri. Ternyata penambangan emas tersebut dilakukan oleh Koprak dimulai dari Abiowage terlebih dahulu, kemudian Koprak memecah tim menjadi dua, sebagian dari tim tersebut bekerja di daerah Tanah Longsor, sebagian lagi bekerja di Abiowage. Yohanes bekerja selama 6 hari dan mendapatkan bayaran sebesar 600 ribu.

Sementara anak-anak yang lainnya seperti Timotius, hanya main-main saja ke daerah pertambangan, terkadang membantu sedikit dan menjadi pekerja harian lepas. Timotius mendapatkan bayaran 50 ribu rupiah untuk bekerja satu hari. Namun Timotius menguatkan pernyataan teman-temannya mengenai penggunaan merkuri. Murid lainnya Wahyu hanya membantu angkat-angkat barang saja, mendapatkan bayaran juga sebagai pekerja harian lepas. Mengenai penggunaan sarana transportasi mereka hanya menggunakan perahu dan ketingting saja, tidak ada penggunaan helikopter.

Dari kesaksian anak-anak Danowage tersebut dapat disimpulkan bahwa penambangan dilakukan di beberapa titik. Yang kami ketahui saat ini dilakukan di tiga titik såja. Bisa jadi ada juga penambangan di Wilayah lain di sepanjang sungai Deiram Hitam.

Hal ini sangat disesalkan, mengapa bisa terjadi? Sekelompok orang asing datang dan menjarah emas milik orang Korowai, setelah mereka membodohi orang-orang Korowai. Mereka datang menemui tuan dusun, meminta ijin, memberikan sejumlah uang, dan mengiming-imingi akan mendapat kekayaan yang besar. Mereka mengambil banyak Rupiah dengan mendulang emas milik orang Korowai, bahkan mereka menggunakan orang Korowai sendiri bekerja untuk mengambil emas milik mereka sendiri, namun  menjual hasil emas tersebut untuk mereka pribadi. Sementara itu anak-anak serta orang Korowai yang bekerja bersama mereka hanya dibayar murah saja.

Ditambah lagi penggunaan merkuri yang dikhawatirkan dapat merusak ekosistem sungai, dan sangat membahayakan bagi orang Korowai sendiri. Kali Deiram merupakan tempat bagi orang Korowai untuk “hidup”. Orang Koroway menggunakan kali Deiram untuk transportasi, mandi, mencari ikan atau udang, mencuci, bahkan sebagai sumber air bersih dan air minum bagi orang Korowai.

Bayangkan jika dari tahun 2015 atau bahkan sebelumnya hingga sekarang tahun 2018 sudah paling tidak (kira-kira) 4-5 tahun mereka menambang di sungai Deiram dan menggunakan merkuri, berapa konsentrasi merkuri yang ada di air kali Deiram? Butuh penelitian tentang kandungan merkuri pada air kali Deiram. Dan juga kandungan merkuri apabila berada di dalam air, dapat bereaksi dengan bakteri menjadi metil merkuri yang berakibat dapat terpapar pada makhluk hidup lainnya, dan dapat terakumulasi pada rantai makanan yang dapat mengakibatkan terakumulasi pada tubuh manusia. Hal ini dapat mengakibatkan kejadian seperti di teluk Minamata Jepang beberapa dekade silam. Tentu sangat berbahaya, kandungan metil merkuri dapat mengakibatkan kerusakan rantai makanan, manusia keracunan logam berat, mengakibatkan kelumpuhan pada manusia, kerusakan otak, organ tubuh, penyakit syaraf hingga kematian. Pada ibu hamil metil merkuri juga berbahaya karena dapat mengakibatkan kecacatan pada bayi yang baru lahir, atau kematian bayi.

Kami berharap kiranya para pihak terkait segera memikirkan masalah ini. Mari kita bersama-sama memikirkan yang terbaik untuk masyarakat Korowai. Memberikan edukasi kepada mereka jangan mau jika ada pihak yang memperalat mereka untuk menambang emas. Emas tersebut adalah milik orang Korowai, biarkan orang Korowai yang menikmati hasilnya. Namun juga perlu kita pikirkan bagaimana menambang yang ramah lingkungan, menghindari penggunaan logam berat atau zat beracun lainnya.

*NN

Pekerja Sosial di Koroway

Satu tanggapan untuk “Ancaman Tambang Emas Liar Danowage

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.