Sabtu, 15 Agustus 2020
Beranda Headline Pater Frans Lieshout : Berpihak Karena Berakar

Pater Frans Lieshout : Berpihak Karena Berakar

Kabut duka menyelimuti Umat Katolik di Tanah Papua khususnya, dan masyarakat Papua umumnya pada 1 Mei 2020 lalu. Frans Lieshout, seorang misionaris OFM asal Belanda yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama orang Papua, menghembuskan nafas terakhir di Belanda.

Jauh dari umat yang dilayaninya selama 56 tahun berkarya sebagai seorang saudara Fransiskan, Tete Lieshout, demikian ia biasa disapa umat di Wamena, meninggal dunia di salah satu biara OFM di Amsterdam Belanda.

Tete Frans Lieshout, kembali ke Belanda pada akhir Oktober 2019 lalu setelah beberapa tahun terkahir keluar masuk rumah sakit karena sakit. Beberapa kali ia terpaksa kembali ke Belanda untuk melakukan operasi dan pengobatan. Namun ia tetap memilih untuk kembali ke Papua, ke Lembah Baliem. Ia bahkan beberapa kali mengungkapkan bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di Lembah Baliem. Namun, kondisi kesehatannya membuat dia harus sering ke Rumah Sakit termasuk Rumah Sakit di Belanda. Pada 17 Oktober 2019 lalu, ia akhirnya berpamintan dengan umat di Lembah Baliem untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Kepergiannya menyisahkan duka yang mendalam, bukan karena umat dan masyarakat Papua tidak bisa memberikan penghormatan terakhir di hadapan jenazahnya, tetapi juga karena umat di Papua pun tidak bisa berkumpul dan mendoakannya sebagaimana biasanya dalam budaya Lembah Baliem. Di tengah Wabah Corona, umat terpaksa hanya bisa berdoa di rumah masing-masing.

Namun, umat dan masyarakat di tanah Papua tidak akan melupakannya. Tete Frans akan akan selalu dikenang sebagai seorang misionaris yang peduli dan berpihak pada masyarakat kecil Papua yang menderita.

Pater Frans Lieshout merupakan anak bungsu dari 11 bersaudara. Ia lahir di kota Montfoort – Belanda pada 15 Januari 1935. Setelah menghabiskan pendidikannya sebagai calon Imam, Tete Frans ditugaskan di Papua. Ia tiba di Papua pada 18 April 1963, saat situasi politik di Papua mencekam usai deklarasi berdirinya Negara Papua Barat diikuti oleh operasi Trikora 19 Desember 1961 yang dilancarkan presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Tidak sampai sebulan Pater Lieshout tiba di Papua, tepatnya pada tanggal 1 Mei 1963, terjadi apa yang disebut oleh pemerintah Indonesia sebagai hari Integrasi bangsa Papua ke dalam NKRI. Namun bagi orang Papua, 1 Mei 1963 adalah hari aneksasi atau pencaplokan bangsa Papua Barat.

Pemerintah Indonesia beralasan bahwa masuknya Papua ke dalam Indonesia sudah sesuai dengan perjanjian New York pada 15 Agustus setahun sebelumnya. Perjanjian yang sering dikenal dengan sebutan New York Agreement terjadi antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda difasilitasi oleh Pemerintah Amerika yang diwakili oleh Diplomatnya Eslworth Bunker. Orang Papua tidak dilibatkan sama sekali dalam perjanjian itu. Dan Pater Frans Lieshout mengalami proses-proses aneksasi itu di mana muncul berbagai penolakan dan perlawanan di tanah Papua dan tanggapan pemerintah Indonesia dengan berbagai operasi militer.

Dalam kondisi Papua yang bergejolak dengan berbagai operasi militer dan banyaknya rakyat Papua yang berjatuhan, Pater Frans Lieshout harus terus berkarya. Ia pun ditugaskan untuk menjadi sekretaris II keuskupan Jayapura pada tahun 1963 – 1964. Pater Frans terus bergulat dengan kondisi masyarakat Papua untuk menemukan tanggapan yang tepat sesuai dengan panggilannya sebagai seorang misionaris Fransiskan.

Baru setahun di Jayapura, Pater Frans ditugakan menjadi pastor Paroki Musatfak di Lembah Baliem, Wamena mulai tahun 1964 hingga 1967. Di Wamena, Pater Frans menemukan kecintaannya yang luar biasa dengan tanah Lembah Baliem dan masyarakat serta kebudayaannya. Pater Frans mempelajari kehidupan masyarakat lembah Baliem termasuk bagaimana orang Baliem melihat Tuhan sebelum misionaris datang mewartakan Injil. Kecintaannya yang luar biasa dengan masyarakat Lembah Baliem mendorongnya untuk serius belajar budaya dan Bahasa setempat. Ia pun akhirnya sangat fasih berbicara Bahasa masyarakat Lembah Baliem. Pater Frans pun terbiasa untuk memimpin misa dalam Bahasa suku Dani sehingga membuatnya semakin dicintai masyarakat Lembah Baliem.

Sebagai misionaris yang siap diutus ke mana saja Tuhan mengutusnya, Pater Frans Lieshout kemudian menerima tugas perutusan baru sebagai pastor Paroki di Bilogay di Kabupaten Intan Jaya dari tahun 1967 hingga 1973. Pada tahun 1973, Ia ditugaskan menjadi rector di SPG Teruna Bakti Waena (Sekarang SMA Katolik Teruna Bakti) sebagai tempat mendidik para calon guru yang siap untuk mengabdi di Tanah Papua. Pater Frans masuk di SPG Teruna Bakti saat sekolah tersebut baru dipindahkan dari Biak pada tahun 1971 dan mengakhiri masa tugasnya di Teruna Bakti setelah 10 tahun mengabdi pada tahun 1983.

Pater Frans kemudian ditugaskan menjadi pastor Koordinator tiga Paroki di Jayapura (Katedral, APO dan Argapura) pada tahun 1983 hingga 1985 sebelum diangkat menjadi Pastor Dekan Dekenat Jayawijaya (Sekarang Dekenat Pegunungan Tengah) pada tahun 1985 hingga 1996. Kembali ke Wamena untuk waktu yang lama membuatnya semakin fasih berbahasa daerah dan semakin mendalami kebudayaan masyarakat di Lembah Baliem. Pengalamannya hidup di tengah masyarakat lembah Baliem membuatnya kemudian memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Wamena setelah pension pada tahun 2007.

Sebelum pension dan memutuskan untuk kembali ke Wamena, Pater Frans ditugaskan menjadi Pastor Dekan Dekenat Jayapura merangkap sebagai dosen Liturgi pada STFT Fajar Timur di Abepura pada tahun 1996 – 2002. Menjelang masa pensiunnya, ia menjadi pastor Paroki di Biak pada tahun 2002 hingga pension pada tahun 2007.

Di semua tempat ia ditugaskan, Pater Frans Lieshout secara serius mewartakan Injil dalam kata dan perbuatan. Ia tidak hanya berkotbah dari atas mimbar, tetapi ia terjun langsung dalam pergulatan masyarakat dan umat yang dilayaninya. Ia tidak hanya memberikan kesejukan dengan kata-kata tetapi ia membawa harapan tepat di tengah-tengah umatnya yang menderita dengan ikut berjuang bersama melawan ketidakadilan dan penderitaan.

Untuk itu, Pater Frans tidak segan mengeritik pihak-pihak yang melakukan kekerasan dan ketidakadilan. Ia pun mengecam orang-orang yang hidup nyaman di tengah penderitaan masyarakat Papua. Ia bahkan tidak segan mengeritik Gereja Katolik yang menurutnya kian jauh dari masyarakat Papua dan pergulatan hidupnya.

Suatu ketika dalam sebuah diskusi di Wamena, Ia mengeritik Gereja yang diam atas persoalan umat di Papua dan orang-orang Non Papua yang hanya datang mencari nafka di Papua dan kurang peduli dengan orang Papua pemilik tanah ini. Ia, sebagaimana artikelnya yang menjadi penyulut diskusi, meminta agar Gereja dan semua orang untuk menjadi sedikit lebih hitam dan keriting. Menjadi Hitam dan Keriting bukan dalam arti harafiah tetapi dalam artian agar para pemimpin agama dan masyarakat Non OAP untuk lebih melibatkan diri dalam problematic yang dialami masyarakat Papua.

Hal ini kembali diungkapkannya saat diskusi Bedah Buku Papua di Ambang Kehancuran karya SKPKC Fransikan Papua, yang diadakan oleh Yayasan Teratai Hati Papua di gedung Sosial Katolik Wamena. Menurutnya, saat ini masyarakat Papua seperti berjalan dan berjuang sendiri. Gereja semakin jauh dari pergumulan hidup umatnya, sementara non-OAP sibuk menimbun harta untuk dikirim kembali ke kampung halamannya. Masyarakat Papua dibiarkan menderita dan mengalami ketidakadilan terus menerus.

Ia pun mencontohkan bagaimana kondisi Papua akhir-akhir ini di mana orang Papua berjuang sendirian menuntuk keadilan. Ia mengungkapkan bahwa ketika demo menuntut keadilan atau mengecam tindakan pelanggaran HAM oleh aparat, hampir semua orang Papua yang berteriak. Para pastor dan pendeta entah di mana, demikian pun pendatang tidak terlibat bahkan cenderung menghindar. Sayangnya suara orang Papua tidak didengarkan oleh Negara sehingga perjuangan mereka menuntut keadilan justeru seringkali membuat mereka jadi korban lagi.

Padahal menurut Pater Frans, keadilan mestinya dibicarakan semua orang baik itu Orang Papua maupun Non-Papua yang hidup di tanah ini termasuk para pemimpin agama. Karena itu, dalam beberapa kesempatan demonstrasi damai di Wamena, Pater Frans Lieshout pun ikut serta berjalan memantau proses demo. Namun karena kondisinya yang sudah tua, ia tidak mampu bertahan lama sampai demo usai. Namun, tindakannya menunjukkan bahwa siapa pun mesti ikut bergulat dan berjuang dalam persoalan yang dihadapi masyarakat Papua.

Sikapnya yang selalu berpihak pada masyarakat kecil yang menderita tidak muncul dengan sendirinya. Sikap itu muncul setelah ia harus menanggalkan perasaan superior sebagai bangsa yang maju di Belanda sana dan bersedia menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Ia terjun bersama masyarakat Papua dalam lumpur ketidakadilan dan dari sana ia tahu apa yang bisa ia perjuangkan. Karena keberakarannya pada kehidupan masyarakat yang dilayanilah, Pater Frans Lieshout pun teguh berdiri menantang ketidakadilan.

Untuk itu, Nopase Lieshout berteman dan bergaul dengan siapa saja. Ia selalu akrab dengan orang-orang tua, tetapi juga bisa dengan mudah berbincang-bincang dengan anak-anak. Ia hadir di tengah umatnya bukan hanya untuk mengajar atau memberi kabar baik, ia pun belajar banyak sehingga bisa terus berkarya dan berjuang bersama masyarakat.

Dalam sisa-sisa waktu hidupnya di Wamena, Nopase Lieshout masih tetap menunjukkan keberpihakannya. Ketika para pengungsi Nduga diabaikan oleh pemerintah dan juga gereja, Ia menaruh perhatiannya dengan memberi semangat kepada para Tim Relawan Kemanusiaan untuk Pengungsi Nduga yang harus berhadapan dengan aparat karena mendirikan sekolah darurat untuk Pengungsi Nduga. Ia pun rela mengambil uang sakunya untuk menyumbangkan kepada Tim Relawan ketika mengetahui Tim Relawan sedang kesulitan menyediakan makanan bagi anak-anak pengungsi di Sekolah Darurat.

Kini, Nopase Frans Lieshout telah berpulang ke Rumah Bapa yang mengutusnya ke tanah Papua. Kepergiannya menyisahkan tanda tanya: sudahkah Gereja, Non-OAP dan kita semua menjadi Hitam dan Keriting dengan bersedia melibatkan diri dan berjuang bersama masyarakat Papua?

Ia meninggal dunia bertepatan dengan Hari Aneksasi yang kini selalu dikecam sebagai awal mula perjalanan penderitaan Bangsa Papua. Ia akan dikenang bangsa ini sebagai orang asing yang telah menjadi orang Papua dan berjuang melawan penderitaan bangsa ini.

Selamat Jalan Tete Lieshout. Doakan Bangsa Papua segera mendapatkan keadilannya.

Oleh EG

Must Read

Oknum Anggota Polres Jayawijaya Diduga Lakukan Praktek Pungli dari Warung Makan

Wamena, nokenwene.com – Diduga Kuat Oknum Anggot polisi di Polres Jayawijaya melakukan pungutan liar (Pungli) dari beberapa pemilik usaha di Kota Wamena sebagai jasa...

Peringati Hari Pribumi, Masyarakat Adat Papua Buat Petisi Tolak Otsus

Wamena, Nokenwene.com – Dewan Adat Papua (DAP) memperingati hari pribumi Internasional yang jatuh pada tanggal 9 Agustus 2020. Syukuran peringatan itu dilakukan di lapangan...

Ratusan Pencakar di Yahukimo Mendatangi Kantor Bupati

Dekai, nokenwene.com - Ratusan masa Pencari Kerja (Pencakar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Yahukimo mendatangi Kantor Bupati Yahukimo Senin,(03/08/2020). Koordinator Tim Pencari Kerja...

Pemkab Yahukimo Diminta Serius Tangani Pemadaman Listrik di Kota Dekai

Dekai, nokenwene.com - Pemerintah Kabupaten Yahukimo diminta untuk serius menangani pemadaman listrik di Dekai Ibukota Kabupaten Yahukimo. Permintaan tersebut disampaikan Rein Kobak, salah seorang masyarakat...

Related News

Oknum Anggota Polres Jayawijaya Diduga Lakukan Praktek Pungli dari Warung Makan

Wamena, nokenwene.com – Diduga Kuat Oknum Anggot polisi di Polres Jayawijaya melakukan pungutan liar (Pungli) dari beberapa pemilik usaha di Kota Wamena sebagai jasa...

Peringati Hari Pribumi, Masyarakat Adat Papua Buat Petisi Tolak Otsus

Wamena, Nokenwene.com – Dewan Adat Papua (DAP) memperingati hari pribumi Internasional yang jatuh pada tanggal 9 Agustus 2020. Syukuran peringatan itu dilakukan di lapangan...

Ratusan Pencakar di Yahukimo Mendatangi Kantor Bupati

Dekai, nokenwene.com - Ratusan masa Pencari Kerja (Pencakar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Yahukimo mendatangi Kantor Bupati Yahukimo Senin,(03/08/2020). Koordinator Tim Pencari Kerja...

Pemkab Yahukimo Diminta Serius Tangani Pemadaman Listrik di Kota Dekai

Dekai, nokenwene.com - Pemerintah Kabupaten Yahukimo diminta untuk serius menangani pemadaman listrik di Dekai Ibukota Kabupaten Yahukimo. Permintaan tersebut disampaikan Rein Kobak, salah seorang masyarakat...

12 KOMENTAR

  1. What’s up, its pleasant paragraph on the topic of media print, we all be familiar with
    media is a great source of information.

  2. It is perfect time to make some plans for the future
    and it’s time to be happy. I’ve read this post and if I could I want
    to suggest you few interesting things or suggestions.

    Perhaps you could write next articles referring to this article.
    I wish to read more things about it!

  3. It’s remarkable to visit this site and reading the views
    of all mates concerning this paragraph, while I am also zealous of getting familiarity.

  4. Wow that was strange. I just wrote an extremely long comment but after I
    clicked submit my comment didn’t show up. Grrrr…
    well I’m not writing all that over again. Anyhow, just wanted to say excellent blog!

  5. I do not even know how I finished up here, however I assumed this
    publish used to be great. I don’t understand who you are however definitely you are going to a famous blogger if you are
    not already. Cheers!

  6. of course like your web site however you have to take a look at the spelling on several of your posts.
    Many of them are rife with spelling problems and I to find it very troublesome to tell
    the truth on the other hand I will certainly come back again.

  7. I believe this is among the most significant info for me.
    And i’m happy studying your article. But wanna statement on few general
    things, The website style is perfect, the articles is in point
    of fact nice : D. Just right process, cheers

  8. Having read this I thought it was extremely enlightening.
    I appreciate you taking the time and effort to put this content
    together. I once again find myself spending a lot of
    time both reading and posting comments. But so what, it was still worth
    it!

  9. Does your website have a contact page? I’m having a tough
    time locating it but, I’d like to send you an email.

    I’ve got some suggestions for your blog
    you might be interested in hearing. Either
    way, great site and I look forward to seeing it improve over time.

    adreamoftrains webhosting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here