Usaha Harus Mandiri

*Panuel Maling

Era Otonomi Khusus sudah berjalan 19 Tahun sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Dalam UU itu, terdapat berbagai kewenangan yang dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi Papua untuk mengatur sendiri, termasuk salah satunya adalah anggaran Otonomi Khusus.

Meskipun UU Otsus sudah berjalan 19 Tahun, era Otsus menyisahkan berbagai cerita dan rekam jejak yang tidak sesuai harapan masyarakat. Hak politik masyarakat Papua menjadi bahan konsumsi bersama, posisi strategis pemerintahan dikuasai oleh orang non Papua dan bidang usaha pun kini menjadi lahan subur bagi pengusaha kelas atas alias non Asli Papua.

Kini, berbagai upaya pengembangan usaha masyarakat asli Papua tak bisa diberdayakan oleh anggaran otsus. Di berbagai media masa diberitakan soal ‘Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Asli”. Tetapi nyatanya tak bakal terwujud, mungkin ada, tapi tidak seheboh pemberitaan di media. Mimpi mengembangkan usaha pun berjalan di tempat. Mengapa demikian, pada hal di tempat yang sama, pemilik Mall, Swalayan, Supermarket, Toko, Kios, Warung, CV, PT dan lainnya di kuasai oleh pengusaha non Asli Papua?

 

“OAP Harus Belajar Usaha MANDIRI”

Koperasi YILA CAHAYA ABADI didirikan pada 13 Januari 2017 di Dekai Kabupaten Yahukimo melalui rapat bersama calon anggota koperasi yang terdiri atas 25 orang. Setelah itu anggota yang dipercayakan mengurus administrasi koperasi hingga pada oktober 2017 selesai. Kemudian, tanggal 7 Oktober 2017 membuka kios milik koperasi YC-ABADI yang terletak di jalan Seradala KM.03 Dekai, Kabupaten Yahukimo.

Usaha perdana itu berjalan 7 bulan, tepat pada 20 April 2018 dideklarasikan Koperasi YILA CAHAYA ABADI oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Yahukimo. Sebelum kegiatan deklarasi, tanggal 18 April dilaksanakan Sosialisasi, tanggal 19 RAT, dan tanggal 20 kegiatan Deklarasi. Pada RAT Koperasi diputuskan untuk memulai usaha. Ada 4 (empat) bidang usaha yaitu (1) Pertanian; (2) Peternakan; (3) Perdagangan Sembako; (4) BBM.

Dalam perkembangannya, anggota koperasi bertambah menjadi 55 anggota  yang terdiri atas pengurus, pengawas, pembina, karyawan dan anggota.

Untuk memulai usaha, koperasi YILA CAHAYA ABADI ini, dimulai dengan niat merubah paradigma petani konsumtif menjadi petani produktif. Motto yang ditetapkan adalah “Petani Bukan Takdir dari Kehidupan”. Menjadi petani tidak selamanya hidup miskin, selama Tuhan memberikan jalan untuk bangkit dan mandiri, maju dan berkembang.

Modal awal mendirikan koperasi ini adalah Rp. 106.000; (Seratus Enam Ribu), penerimaan pada tanggal 13 Januari 2017. Selanjutnya atas dasar semangat tinggi untuk maju dan berkembang, akhirnya koperasi YC-ABADI kini mulai berjalan.

Koperasi dimulai bukan karena paksaan, dorongan dengan modal yang cukup, dan bukan karena adanya Dana Otsus (prospek) dan bukan karena adanya Dana Desa. Tapi ini murni atas inisiatif mengembangkan usaha berbasis lokal dan modern.

Sampai pada detik artikel ini ditulis, koperasi YILA CAHAYA ABADI belum mendapatkan dukungan dana dari sumber lain, selain iuran wajib anggota dan kredit di Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebanyak 2 (dua) kali.

Tahap pertama kredit Rp15.000.000; (Lima Belas Juta Rupiah) dan Tahap kedua Rp25.000.000; (Dua Puluh Lima Juta Rupiah) atas nama Ketua Koperasi YC-ABADI (Panuel Maling).

Kredit dilakukan atas nama pribadi tapi ditanggung oleh Koperasi. Karena pihak Bank BRI belum bisa memberikan kredit atas nama badan usaha karena status Bank masih Unit (katanya).

Memasuki tahun 2019, usaha bidang pertanian, peternakan, BBM, perdagangan sembako masih berjalan normal (mandiri), walau belum ada bantuan pihak luar. Berbagai upaya proposal sudah dibuat dan dimasukan ke berbagai pihak, entah melalui surat permohonan, proposal, tawaran hasil produksi, dan melalui media masa. Upaya promosi pun dilakukan melalui diskusi, sharing, hearing, dialog (pemberian proposal melalui hearing DPR Papua komisi II Tidak Terjawab) dan lain-lain. Tetapi sampai sejauh ini belum ada bantuan dari luar.

Dari uraian di atas, kami (55 anggota) koperasi YC-ABADI diajarkan untuk bekerja keras, belajar mandiri dan berjuang tanpa henti-hentinya. Otsus dan Dandes bagi kami 55 orang hanyalah cerita burung. Implementasi dari tujuan utama tak jatuh tepat sasaran. Meskipun demikian, kami tetap semangat dan berjuang keras untuk bangkit dan berdiri di atas kaki sendiri.

Artikel ini dibuat untuk memberikan motivasi bagi pengusaha mikro Orang Asli Papua (OAP) untuk belajar mandiri tanpa mengharapkan dana Otsus.
Semoga ulasan singkat artikel ini memberikan gambaran kepada kita semua, bahwa melakukan usaha di Papua itu tidak segampang membalikan telapak tangan. Terima kasih untuk mitra kami Bank Rakyat Indonesia (BRI) atas bantuannya kami semakin diberikan kekuatan dan semangat untuk melancarkan usaha kami.

Salam berjuang untuk mandiri!!

Dekai, 11 Juni 2019
Penulis: Panuel Maling, ST (Ketua Koperasi YILA CAHAYA ABADI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.