“MARGI REGI KOROWAI” BUKAN SEKEDAR NAMA

Margi saat mengajar anak-anak Korowai (foto:dok pribadi Margi)

Seseorang bertanya di inbox tentang makna nama Margi Regi Korowai. Saya menjawab di wall ini baginya sekaligus bagi pembaca lain. Sebagian isi tulisan ini pernah saya posting pada 5 Juli 2018 di Wamena ketika saya menunggu penerbangan ke Brukmahkot. Saya akan mulai penjelasan dari nama Korowai, Regi baru diakhiri dengan penjelasan tentang Margi.

 

Korowai adalah nama suku yang mendiami wilayah di antara beberapa kabupaten yaitu Yahukimo, Pegunungan Bintang, Asmat, Mapi, Boven Digoel, Mamberamo Raya dan berdekatan juga dengan Kabupaten Lani Jaya. Suku itu masih terasing dan mengalami banyak masalah dalam pembangunan Pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya. Saya mendengar nama Suku Korowai pertama kali pada 7 tahun lalu dalam suatu diskusi dengan Pendeta Trevor di Kampus Universitas Pelita Harapan, Karawang, Banten. Diskusi ini memenuhi imajinasi masa kecil saya untuk menjadi guru bagi orang suku terasing. Waktu masih di SD saya memimpikan itu, tetapi saya tidak tahu nama suku terasing itu, di mana tinggalnya, bagaimana saya ke sana, kapan saya ke sana. Dan informasi dari Pendeta Trevor menjawab imajinasi itu.

 

Ketika mendengar kisah tentang Korowai dari Pendeta Trevor Christian Johnson maka saya tertarik pada dua hal. Pertama, bahwa kisah tentang suku Korowai memberikan tantangan untuk melayani saudara-saudara kita di wilayah terisolir. Jadi ke sanalah saya akan pergi dan melayani sebagai guru, sesuai mimpi masa kecil saya. Kedua, saya termotivasi pada teladan yang diberikan Pendeta Trevor dan keluarga untuk menanggalkan mewahnya hidup di Amerika dan mengabdi bagi suku terasing. Pertanyaan yang selalu membayang adalah apakah saya sanggup meniru teladan Pendeta Trevor untuk melayani suku terasing? Dan peran apa yang bisa saya lakukan di sana?

 

Regi adalah nama salah satu tokoh utama dalam Cerita “Kota Emas” karangan Pdt. I. S. Kijne. Banyak nama dan peran di sana. Ada Tom, ada ayah dan ibu Regi, ibu Tom, Kepala Kampung, Pit Kasuari, Burung Ekor Kipas “Wirewit” dsb. Tapi saya lebih tertarik pada peran Regi.

 

Peran Regi, anak perempuan itu, adalah sebagai motivator. Regi tidak dapat memasuki Kota Emas sendirian. Dia diperintahkan kembali ke kampung dengan menunggangi Piet Kasuari untuk membangun solidaritas kerja sama menuju Kota Emas. Dia harus mengajak Thom sahabatnya, dia bertemu dengan Ibu dari Thom, juga ayah dan ibunya sendiri dan logistiknya didukung oleh Wiriwit Si Burung Hitam.

 

Mengapa peran motivator itu dilakukan oleh Regi, seorang anak perempuan? Apakah Regi dalam imajinasi Pdt. Kijne merupakan penjelmaan dari pandangan adat di Tanah Papua pada umumnya tentang “anak perempuan dalam keluarga”?

 

Anak perempuan dalam adat di Tanah Kita sangat strategis. Dia tidak dapat ditinggalkan seorang diri menghadapi suatu perjuangan. Mamanya, Bapanya, saudara perempuannya, saudara laki-lakinya, om nya, tanta nya dan seluruh keluarga besarnya akan bangkit mendukung dia tatkala dia bersuara meminta dukungan. Anak perempuan pada posisi suatu perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga akan menjadi pengikat persatuan, pendorong kerja sama, pembangun motivasi dan solidaritas keluarga.

 

Saya menggunakan penjiwaan peran Regi dalam tafsiran saya itu untuk mendefinisikan peran dan program kerja yang sedang saya siapkan dan hendak kerjakan. Saya, hendak membangun motivasi dan menjalin persatuan keluarga besar SDM Papua untuk bergandeng tangan membangun Korowai.

 

Apa hubungan antara Regi dan Korowai?

 

Dalam penjiwaan peran Regi itu, saya membayangkan kemajuan pembangunan Suku Korowai sebagai visi bersama tentang Kota Emas yang hendak kita masuki. Suatu suasana damai yang dirasakan keluarga inti di Kampung Papua karena saudara-saudara kita Suku Terasing Korowai juga mendapatkan dan menikmati hak sebagai WNI dalam berbagai aspek pembangunan terutama di bidang pembangunan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan.

 

Pada bulan Maret 2018, saya sudah melakukan survei selama 2 minggu di kampung Burukmakot. Saya berpendapat bahwa konteks Suku Korowai pada saat ini mirip dengan kondisi Papua pada jaman Pdt. I. S. Kijne. Karena itu, konsep pembangunan pendidikan yang pernah beliau lakukan dapat direvitalisasikan. Jadi, pada bulan Mei 2018, saya ke Wasior di mana dulu Pendeta Kijne memulai Program Pembangunan Peradaban Papua. Saya membaca banyak buku, berdiskusi dengan banyak eks anak didik Kijne dan mengunjungi situs Batu Peradaban tempat Kijne banyak menghabiskan waktunya untuk berdoa bagi Papua.

 

Dari observasi selama 2 minggu di Kampung Brukmahkot – Korowai dan observasi di Wasior (Miei) saya sudah membuat persiapan untuk mengajar di Brukmahkot. Persiapan saya tidak hanya untuk mendidik anak-anak usia sekolah saja tetapi juga para orang tua. Ibu-ibu perlu pendidikan ketrampilan hidup tentang mencuci, masak, air bersih. Saya akan bekerja sama dengan petugas Pustu setempat. Saya juga akan menggunakan waktu sore hari untuk melatih para Bapa dan pemuda untuk bertani, memotivasi anak mereka untuk sekolah. Untuk para siswa, saya bermimpi mendorong pembangunan pendidikan dengan pola asrama. Di sekolah mereka dididik dengan metoda 3-M (membaca, menulis, menghitung) dan di asrama mereka dilatih ketrampilan hidup.

 

Lalu Margi, apa maknanya? Margi adalah singkatan dari Camar Gila. Camar umumnya adalah hewan yang hidup berkelompok. Tapi kadang ada satu ekor camar yang memisahkan diri dari kelompoknya dan hidup sebatang kara, mandiri, dan mengikuti pilihannya sendiri. Masyarakat pantai di salah satu pesisir Tanah Papua menamai camar itu dengan bahasa daerahnya yang artinya “Camar Gila”. Camar Gila sering digunakan untuk menjuluki orang-orang yang memiliki keyakinan pada kebenaran tertentu. Meski seluruh kampung memilih jalan ke kanan, dia tidak takut memilih jalan ke kiri meskipun dia sendirian sebab dia yakin pada kebenaran yang dia perjuangkan. Itulah Camar Gila.

 

Pilihan hidup saya untuk menjadi guru bagi Suku Korowai Utara (Korowai Batu) adalah pilihan seekor Camar Gila. Tapi, nama Camar Gila terlalu sangar. Karena itu, saya membuat singkatan yang manis bagi nama itu yaitu Margi. Singkatan dari Camar Gila.

Jadi, Margi Regi Korowai bukan sekedar nama. Itu adalah visi.

8 November 2018

Salam
Margi Regi Korowai

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk ““MARGI REGI KOROWAI” BUKAN SEKEDAR NAMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.