Pasar Mama-Mama (Bagian Dua)

 

Pasar Mama-Mama Papua. (Foto; PapuaLives.)

 

 

 

 

 

 

 

Perjuangan Rojit, Solpap dan Mama-Mama Pasar adalah perjuangan untuk menuntut suatu keadilan bagi masyarakat Papua di tengah gempuran kapitalisme. Pasar Mama-Mama bukan hanya suatu tempat jualan yang lebih baik dan nyaman tetapi juga adalah suatu simbol kekuatan kerjasama perjuangan masyarakat kecil melawan kemegahan dan kenyamanan yang ditawarkan mall-mall atau toko-toko milik kapitalis.

 

Pasar Mama-Mama Papua pun berdiri di tengah-tengah kepungan kapitalis. Berbagai toko, hotel-hotel besar dan gedung-gedung pemerintahan. Ini suatu simbol bahwa ketika masyarakat kecil bekerjasama dan menolak ditundukkan oleh kemudahan yang memanjakan dan meninabobokan. Pasar ini pun sekaligus menunjukkan bahwa baik kapitalis, aparat maupun pemerintah tak ada apa-apanya tanpa kehadiran masyarakat kecil.

 

Kegigihan Mama-Mama Papua di Pasar Mama-Mama yang menolak tunduk pada kedigdayaan kapitalis dan kesewenangan para penguasa tampak jelas pada bagaimana mereka menjaga kerapihan dan kebersihan pasar juga bagaimana cara mereka melayani pembeli yang umumnya adalah masyarakat kecil juga.

 

“Ikan Cakalang Rp 120.000 dan ekor kuning Rp 100.000” tawar sekarang Mama penjual ikan Asar sambil menunjuk beberapa ekor ikan cakalang besar dan ikan ekor kuning yang sedikit lebih kecil.

Sang mama dengan sopan dan tenang menjawabi pertanyaan beberapa pembeli. Saya memperhatikan sang mama membungkus seekor ikan cakalang besar dengan koran bekas. Cepat dan rapi.

Ikan Asar atau ikan yang diawetkan dengan cara diasapi menjadi ole-ole wajib jika datang ke Jayapura. Ikan Asar bisa bertahan hingga berhari-hari jika disimpan dengan baik.

Saya dan Ibu Dhani tak ketinggalan. Kami melihat beberapa ekor ikan Asar dan sang mama menawarkan diri untuk membuka dan mengemas dalam sebuah kardus.

“Kalau ada barang lain yang mau dimasukkan dalam kardus juga boleh” ungkap sang Mama sambil memasukkan ikan ke dalam kardus.

Kami segera berlari mengambil mangga yang dititipkan pada Mama penjual mangga. Dengan sabar, sang Mama penjual ikan menyusun ikan dan mangga. Kurang dari lima menit, ikan dan mangga sudah dikemas rapi. Tak lupa juga sang mama membuat pegangan pada kardus tersebut. Cepat, rapi dan aman. Pegangannya juga nyaman.
Ketika kami ingin memberi tambahan uang untuk jasa pengemasan, sang mama menolak dengan halus sambil tersenyum manis.

Saya merasakan suatu pelayanan yang mengagumkan di tempat ini. Pengalaman berbelanja di pasar-pasar tradisional lainnya di Indonesia tidak seperti ini. Selain suasananya yang menyenangkan, pelayanan Mama-Mama pun luar biasa.

Dalam perjalanan pulang, saya dan Ibu Dhani tak habis habisnya mengagumi pelayanan dan suasana di Pasar Mama-Mama.

Sambil menjinjing kardus ikan dan mangga yang beratnya sekitar 15 Kg, saya membayangkan Rojit yang sering diceritakan beberapa teman. Meskipun proses hukum kasus kematian Rojit tidak memuaskan keluarga, Solpap dan Mama-Mama pedagang serta rakyat Papua semuanya, saya yakin Rojit tetap tersenyum menyaksikan kondisi yang nyaman bagi Mama-Mama di Pasar dan juga pelayanan Mama-Mama yang menyenangkan para pembeli.

Memasuki tempat kami menginap, harum mangga dari dalam kardus yang telah dibungkus rapat dan rapi tadi memenuhi seluruh isi ruangan. Aroma mangga tersebut adalah kenangan yang tak terlupakan dari pelayanan Mama-Mama Pasar. Rasanya kalau ke Jayapura dan tidak mampir di Pasar Mama-Mama, kita sesungguhnya belum menginjakkan kaki di Jayapura.

Ayo ke Pasar Mama-Mama dan nikmati pelayanan luar biasa itu hingga anda membawa Ole-ole dan kepuasan yang tak akan anda temukan di mall-mall.

 

Baca juga bagian pertama

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Pasar Mama-Mama (Bagian Dua)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.